[M]enj[A]di p[RE]diktor [T]erbaik, Bersama KEKUATAN CINTA-NYA!!!

Ketika kita membuka hari..ternyata udara masih saja dapat kita hirup tanpa harus kita bayar sepeser pun..Betapa Allah Swt telah memberikan banyak kenikmatan kita pagi ini.. waktu pun terus berjalan hingga membawa kita pada usia yang tak belia lagi. Semakin banyak tanggung jawab yang harus kita emban. Semakin banyak tugas yang harus kita kerjakan. Tetapi, sang waktu terus saja berjalan dan berlalu…hingga membawa kita pada kedewasaan usia, juga kematangan dalam kemampuan berpikir dan menyelesaikan masalah. Begitu banyak karunia yang telah Allah Swt berikan. Otak kita dengan berjuta neuron yang bekerja, SUNGGUH LUAR BIASA!!! Coba seandainya, ada satu syaraf saja yang tidak berfungsi, pastinya akan sangat mengganggu kinerja syaraf yang lain dan bisa berakibat fatal menyebabkan disfungsi organ.

Kita hidup di dunia ini melalui 3 fase waktu. Masa lalu, sekarang, dan masa datang. Masa lalu, kita tidak akan pernah terlepas darinya. Mau kita berusaha keras untuk melepasnya, untuk melupakannya, bahkan benar-benar berusaha menghapuskannya dari hidup kita, tetapi…masa lalu akan selalu mengiringi kita. Bagaikan dua kepingan mata uang, dia akan senantiasa mengiringi kita. Masa lalu bukan untuk dilupakan, tetapi untuk kita ambil pelajaran. Sepenggal kisah di masa lalu, tentunya akan banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil.

Dan kereta waktu terus saja melaju. Tak kenal lelah. Tak pernah henti. Pun ketika bumi berhenti berevolusi nanti, ia justru akan melaju dalam perjalanan sejatinya. Dan kita manusia adalah penumpangnya. Lebih dari belasan tahun diatasnya, tak satupun dari kita yang tau kapan akan sampai. Namun satu hal yang pasti , yang kita harus yakini dengan keyakinan yang utuh, bahwa saat itu kan tiba meski entah dengan cara bagaimana masing-masing kita akan turun dari kereta ini, lalu naik ke kereta waktu berikutnya.

Lalu tanyakan pada diri, belasan atau bahkan puluhan tahun dalam perjalanan, apa saja yang telah kita lakukan selama itu?

Fase demi fase kehidupan berganti. Lembaran catatan zaman terpenuhi oleh banyak kata, warna dan rasa. Hingga bumi seperti sulit mencerna warna dan rasa yang beragam.

Setetes mani disusul pahit yang sangat , segores warna cerah diselimuti kepulan hitam yang kelam. Banyak peristiwa tak biasa seolah menjadi hal wajar di tengah kita. Bencana demi bencana pun terjadi bagai ombak yang saling susul.

Dan sekali lagi tanyakan pada diri, sanggupkah kita menjadi penonton budiman pada episode keterpurukan zaman di hadapan kita? tidakkah kita lelah menyaksikan rentetan peluru kehancuran memporak-porandakan bangunan negeri ini? Tidak boleh ada jawab selain tidak. Karena pasti masih ada nurani dalam jiwa setiap kita. Kita harus bangkit, zaman membutuhkan kita yang tampil dengan kekuatan. Kekuatan yang mampu membendung peluru-peluru kehancuran. Mampu menyusun kembali peradaban-peradaban yang terberai.

Yakinlah bahwa kekuatan itu sesungguhnya ada pada setiap kita. Kita yang merasa ada di zaman ini, kita yang merasa bagian dari keterpurukan zaman yang terjadi.
Pada diri kita sesungguhnya ada kekuatan yang mampu memupus keangkuhan diri, mampu merobek keringkihan jiwa dan bisa membakar onggokan keserakahan pada dunia yang menyebabkan porak-porandanya peradaban.

Ialah kekuatan cinta. Kekuatan yang akan menorehkan warna cerah bagi dunia. Menumbuhkan rasa kepedulian pada sesama dan semangat perbaikan yang akan mengokohkan bangunan solidaritas kemanusiaan yang selama ini mulai lapuk, lalu berjama’ah membangun kembali peradaban dan menyusun puzzle-puzzle keindahan yang terberai.

Namun cinta disini adalah cinta hakiki. Cinta yang akan melahiran kebeningan pandangan, keindahan bahasa serta ketulusan laku. Cinta yang mampu menghidupkan bashiroh (pandangan hati) seorang insan. Ialah cinta dari Sang Maha Pencinta. Rabb, penggenggam setiap jiwa. Namun cinta ini hanya akan tercurah bagi kita yang “mau” menjadikan Dia sebagai pelabuhan cinta. Kita yang “mau”, bukan yang mampu. Karena kita tak akan pernah mampu menggenggam hati kita untuk membawanya ke hadapan Allah. Kita hanyalah insan, makhluk ciptaan-Nya. Hanya Dia yang mampu membolak-balikkan hati ini untuk diarahkan kearah mana kita menuju. Apakah “mau” kita tertuju pada-Nya pemilik dunia dan akhirat, ataukah hanya pada sesuatu yang dimiliki-Nya, dunia?

Sedangkan “mau” disini bukan hanya keinginan sesaat. Tapi “mau” yang dimaksud adalah keinginan yang sungguh sehingga dengan segenap jiwa akan berusaha mewujudkan ingin itu, lalu melawan pesona dunia bersama keserakahan dan kebengisan di dalamnya yang serta merta melahirkan kerusakan demi kerusakan di bumi ini.

Ini adalah sebuah pilihan. Pilihan yang menuntut ketegasan hati. Memaksa kita untuk menyingkirkan ranting-ranting keraguan lalu membunuh kemalasan serta kemanjaan diri dalam menyerap warna-warna kehidupan yang hadir di hadapan kita.
Bukalah lembaran sejarah para pendahulu kita dalam sepisode kisah cintanya.
Julius Caesar melabuhkan cintanya pada wanita semata. Qarun pada harta, dan Hitler pada kekuasaan. Namun kisah mereka berakhir kehancuran. Sebabnya adalah karena mereka melabuhkan kisah cintanya hanya pada sesuatu yang dimiliki oleh Sang Pemilik Cinta.

Padahal kekuatan cinta yang sesungguhnya hanya akan terpancar dikala cinta itu dilabuhkan pada sumber cinta yang Maha Tinggi. Allah ‘azza wa jalla. Karena dari-Nya akan tumbuh benih-benih cinta yang lain, sehingga cinta itu akan terungkap dalam sikap kesehariannya.

Rasulullah saw telah membuktikannya, dengan cinta yang ia labuhkan sepenuhnya pada sang Rabbi, mampu merubah kejahiliahan dan keterpurukan moral diseluruh Jazirah Arab yang saat itu sangat tak terkendali, menjadi ketentraman yang terstruktur dan terkendali. Itulah KEKUATAN CINTA.

Dengan kekuatan itu juga hati seorang Umar bin Khattab, yang dikenal sangar dan temperamental bisa tersentuh lalu berubah menjadi pemimpin negara yang bijak dengan keadilan dan kasih sayang yang sangat terhadap rakyatnya. Demikian pula Bilal bin rabbah, seorang budak yang selalu tertindas. Meskipun oleh orang kafir beliau ditelentangkan di tengah padang pasir yang terik, lalu di himpit pula dengan batu besar demi untuk mengalihkan cintanya kepada berhala, ia tak gentar sedikitpun. Kekuatan cinta yang lahir dari jiwanya mengokohkan akar tauhid sekokoh Gunung Uhud.

Begitulah buah dari kekuatan cinta hakiki, tak terbendung. Ia mengalirkan kelembutan dalam jiwa yang kekar, memancarkan cahaya di hati yang bening, lalu melahirkan pribadi yang punya komitmen dan keberanian untuk melakukan perbaikan.
Inilah yang kita butuhkan hari ini. Kekuatan yang mengaliri setiap diri. Lalu dengan itu kita akan mampu menghijrahkan diri dari seorang yang terbiasa manja dalam kemalasan, menuju diri yang mau berjuang. Mengukir karya kepahlawanan dalam bentuk sikap dan tingkah laku yang membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Kekuatan ini pun mampu mengikis keserakahan dalam diri seorang koruptor, kebakhilan di hati seorang jutawan dan seluruh keringkihan yang bersarang dalam jiwa-jiwa yang kerdil.

Maka segeralah beranjak, raih kekuatan itu. Raih cinta dari Maha Pencinta. Rasakan keindahan berbicara dengan-Nya ketika sholat. Bangun harapan dengan doa-doa yang panjang. Telaahlah tipe perkataan-Nya yang telah dihimpun dalam Al-qur’an. Kita akan rasakan kekuatan itu. Kekuatan cinta dari Allah ‘azza wajalla.

JADILAH PREDIKTOR TERBAIK!!!

MERANCANG MASA DEPAN GEMILANG DENGAN IDE CEMERLANG….

CIPTAKAN FUTURISTIK YANG FUNTASTIC!!!


Wallahu a’lam bishsshawab.

Sumber : Serakan Inspirasi Bulan Maret (pemulunginspirasi.doc.pribadi)

[Zona Inspirasi SUPERTWIN, aksi ‘Pemulung Inspirasi’ di awal bulan April…ketika Maret pun berlalu….]

MARET : [M]enj[A]di p[RE]diktor [T]erbaik !!!

Contest

APRIL_ITB : [A]ktualisasikan [P]rofesionalitas di[RI] tuk [L]ejitkan potensi dalam dunia [I]nspirasi [T]anpa [B]atas

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-alt:”Times New Roman”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”Maiandra GD”; panose-1:2 14 5 2 3 3 8 2 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-family:”Maiandra GD”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:Calibri; mso-bidi-theme-font:minor-latin;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:35.4pt; mso-footer-margin:35.4pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

APRIL_ITB : [A]ktualisasikan [P]rofesionalitas di[RI] tuk [L]ejitkan potensi dalam dunia [I]nspirasi [T]anpa [B]atas

Allah Mahahidup. Ia senantiasa mengurusi hamba-hambaNya. Tidak satu pun makhluk yang terlewat dari perhatianNya. Setiap makhluk di jagat raya ini mendapatkan bagian yang terukur dariNya.

Karena sejatinya, apa yang kita peroleh senantiasa berkesesuaian dengan keadaan kita. Allah tidak pernah sekali-kali berkehendak mendzalimi hamba-hambaNya dalam hal pemberian. Atas rasa sakit, atas rasa kehilangan atau mungkin atas rasa memiliki, atas rasa mencintai. Di setiap yang terjadi, di baliknya selalu ada hikmah yang mungkin sulit untuk dimengerti, dan mungkin bukan untuk saat ini bisa untuk dimengerti.

Terkadang rasa sakit terlebih dahulu menghampiri, karena ketika nikmat kebaikan datang, agar kita menyadari dan menjaga betapa besar nikmat kebaikan tersebut kita miliki. Dan ketika kita berjalan di jalan yang keliru, agar kita mensyukuri ketika berhasil menemui kebaikan yang sesungguhnya yang harus kita jaga dan tak kita lepas.

Melewati setiap kesulitan bukanlah hal yang mudah. Melalui setiap kesedihan juga bukan suatu hal yang mudah. Karena kadang membuat kita terpuruk dalam kesedihan yang tak dimengerti. Tapi Allah tak pernah membiarkan hambaNya terus dalam satu keadaan. Dia memperhatikan setiap langkahmu, Dia mengetahui setiap keluh kesahmu. Bahkan Dia tahu airmatamu. Allah juga tahu sekeras apa engkau berusaha dan melalui semuanya.

Setiap peristiwa yang dilihat dan dirasa, setiap suara yang didengar, merupakan bagian hidup yang telah diciptakan untuk kita sebagai sebuah kesatuan. Suara burung yang berkicau, langit yang berwarna kebiruan, cahaya matahari yang senantiasa menyinari, atau malam yang dihiasi bintang-bintang merupakan satu kesatuan yang tak terlepas dariNya untuk kita. Tak ada bunga yang mekar dan layu dengan kebetulan. Tak ada rasa sakit dan nikmat kebaikan yang datang secara kebetulan. Tak ada manusia yang lahir dan mati secara kebetulan. Semua bagian dari garis yang sudah tertulis sejak saat pertama kita diciptakan.

Allah tidak pernah menyia-nyiakan setiap usaha hambaNya yang berusaha dan istiqamah meraih ridhaNya. Allah juga tidak pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang terus berusaha mengerti akan perjalanan hidup yang tergaris untuknya. Karena Allah akan berada dan memberi sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

Dia tahu airmatamu. Walau berat, walau sulit, karena semua sudah ada dalam kehendakNya. Kita hanya perlu menumbuhkan kesadaran untuk menerima bahwa itu dariNya dan untuk kebaikan kita.

BANGKIT DAN BERSEMANGATLAH !!!!

APRIL_ITB : [A]ktualisasikan [P]rofesionalitas di[RI] tuk [L]ejitkan potensi dalam dunia [I]nspirasi [T]anpa [B]atas

Wallahu a’lam bishshawab.

Sumber : Serakan Inspirasi Awal April….(pemulunginspirasi.doc.pribadi)

[Zona Inspirasi Supertwin, 1 April 2010….21:44 WIB]

Hello world!

Welcome to UNS Social Network ™.
Terima Kasih telah menggunakan blog staff UNS. Selamat menggunakan blog. Untuk Kesulitan silahkan ym dengan admin YM : w4ww4n , you_dhi_aks, dan hendri_des

Atau kunjungi blog admin
Admin 1 :Ardian M. Prastiawan
Admin 2 :Sri Wahyudi (FMIPA)
Admin 3 :Hendri Desitwanto (FKIP)